Pages

Jumat, 08 Juni 2012

MINI PROYEK


Topik : Peran teknologi sebagai media belajar pada siswa SMA
Judul : Perbedaan metode belajar presentasi dan metode belajar ceramah dari sudut pandang Memori

I.Perencanaan

1.1 Pendahuluan
Kami memilih topik ini karena kami melihat proses pembelajaran sekarang dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) begitu banyak metode yang digunakan dalam proses pembelajaran agar murid dapat memahami pelajaran tersebut dan yang salah satunya adalah metode belajar presentasi dan ceramah. Sehingga  timbullah keinginan kami untuk mengetahui perbedaan metode belajar presentasi dan metode belajar ceramah dari sudut pandang memori.

1.2 Landasan Teori
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Benjamin Bloom menciptakan taksonomi keahlian kognitif yang mencakup pengingatan, pemahaman, synthesizing, dan pengevaluasian, yang menurutnya harus dipakai dan dikembangkan oleh guru untuk membantu murid-murid.

Dan juga dimana ketika proses pembelajaran tertentu dapat tersimpan di memori. Sehingga saat proses pembelajaran yang tidak cukup lama pun, memori dapat digunakan secara maksimal. Yang kami tekankan disini adalah bahwa metode belajar akan mempengaruhi tersimpan atau tidaknya materi yang diajarkan di dalam memori. 

1.3 Alat atau bahan :
·         Dengan menggunakan kuisioner pertaqnyaan seputar materi yang diberikan dengan metode yang berbeda di setiap kelas yang digunakan, yakni : metode belajar presentasi dan metode belajar ceramah.
·         Dengan observasi, dimana akan dilakukan observasi selama proses pemberian materi berlangsung.
·         Alat tulis
·         Kamera

1.4 Analisa data
Pengumpulan data diartikan sebagai proses atau kegiatan yang dilakukan peneliti untuk mengungkap dampak dari metode belajar presentasi dengan metode ceramah dari sudut pandang memori. Pengumpulan data pada tugas mini proyek  berupa data primer yang artinya data yang didapat oleh peneliti serta metode atau teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dengan menyebarkan  kuesioner (daftar pertanyaan) kepada siswa-siswa SMA. Metode kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Jenis pertanyaan yang digunakan adalah isian singkat dari materi yang telah diberikan. Proses analisis data dimulai dengan menelah seluruh data yang telah diperoleh yaitu dari kuesioner yang telah diisi oleh responden. Kemudian data tersebut dibaca, dipelajari,dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengkategorisasikan atau data yang memilih jawaban yang sama dari kuesioner yang telah dijawab oleh responden kemudian menghitung persentasi data .kemudian ditarik kesimpulan.

1.5 Objek atau subjek
Pengumpulan data dengan metode kuesioner dapat diisi oleh seluruh siswa SMA baik siswa kelas X, XI maupun siswa XII. Subjek penelitian adalah dampak dari metode belajar presentasi dengan metode ceramah dari sudut pandang memori dan objek penelitian adalah siswa SMA yang berada di bimbingan belajar (bimbel) di bimbingan belajar Einstein College sehingga merekalah yang menjadi responden dari penelitian.

1.6 Jadwal pelaksanaan


1.7 Kalkulasi biaya

Kegiatan
Waktu
Biaya
Print kuisioner & fotokopi
Sabtu, 26 Mei 2012
Rp. 3000,00
2 kotak pulpen standard (reward)
Kamis, 24 Mei 2012
Rp. 24.000,00
Transportasi
Senin, 28 Mei 2012
Rp.13.000,00
Sewa infocus
Senin, 28 Mei 2012
Rp. 20.000,00
Total
Rp. 60.000,00



II. Pelaksanaan

Pada tugas mini proyek ini ada 3 tahapan yang harus dilaksanakan,yaitu tahap perencanaan,tahap pelaksanaan dan tahap laporan serta evaluasi.

Tahap pertama yang dilakukan adalah perencanaan.Pengerjaan tahap ini dilaksanakan pada hari Jumat,20 April 2012. Di dalam tahap ini topik yang dipilih adalah peran teknologi sebagai media belajar pada siswa SD/SMP/ SMA.Berdasarkan topik tersebut diangkat judul adalah dampak dari metode belajar presentasi dengan metode ceramah dari sudut pandang memori pada siswa SMA. Setelah pemilihan judul selesai ,disusunlah bagian pendahuluan,landasan teori,alat dan bahan yang digunakan,analisis data,objek dan subjek yang terlibat,membuat time table,dan menghitung kalkulasi biaya.Pada bagian  yang akan dikerjakan ini dilakukan pembagian tugas pada masing-masing anggota kelompok.

Setelah pada tahap perencanaan selesai maka yang harus dikerjakan adalah tahap pelaksanaan. Sebelum memasuki tahap pelaksanaan,dilakukan penyusunan kuesioner.Penyusunan materi yang akan disampaikan ini dilakukan pada hari Sabtu, 5 Mei 2012.Kuesioner ini digunakan sebagai metode dalam pengumpulan data.Pada kuesioner ini terdiri atas 5 pernyataan yang dimana masing-masing pernyataan berkaitan dengan materi yang telah diberikan sebelumnya kepada responden.

 Pada hari Sabtu, 15 Mei 2012 kuesioner yang telah selesai disusun akan diprint serta difotocopy. Kuesioner ini difotocopy sebanyak 20 buah.Selain itu juga dilakukan pembelian 2 buah kotak pulpen sebagai reward yang nantinya akan diberikan pada siswa yang telah mengisi lembar kuesioner yang dibagikan.

 Pada hari Sabtu, 28 Mei 2012 sekitar pukul 16.30, dilakukan penyampaian materi dan kemudian diberikan kuisioner seputar materi yang telah disampaikan. Pengumpulan data yaitu melalui penyebaran kuesioner di bimbingan Einstein College. Kuisioner yang diberikan sebanyak 20 dengan pembagian dua kelas dengan 10 orang setiap kelasnya. Di samping itu,juga dilakukan dokumentasi di kedua bimbingan berupa pengambilan foto menggunakan kamera digital  seperti mengambil gambar saat berlangsungnya proses pengisian kuesioner yang dilakukan oleh siswa SMA.

Pada hari Rabu, 30 Mei 2012 dilakukan analisis data dari hasil yang  telah terkumpul pada penyebaran kuesioner kemarin harinya. Sebelum proses analisis telah diusahakan agar tidak terjadi bias dari awal penyampaian materi sampai pada pengisian kuisioner. Dan pada proses analisis ini,penghitungan data dilakukan dengan sangat teliti untuk menghindari terjadinya kesalahan. Dan pada hari yang sama telah didapat hasil survey.

 Pada hari Sabtu, 2 Juni 2012 dari kesimpulan itu diterjemahkan ke dalam bentuk poster.Pembuatan poster ini menggunakan software adobe photoshop. Pembuatan poster ini memakan waktu yang cukup lama karena membutuhkan imajinasi yang cukup tinggi membuat poster yang berkaitan dengan isi kesimpulan. Pengerjaan poster ini selesai pada hari Rabu, 6 Juni 2012.

Pada akhirnya, 8 Juni 2012 tugas mini proyek yang telah selesai dikerjakan diposting diblog masing-masing dari anggota kelompok.


III. Laporan dan Hasil Evaluasi

3.1. Laporan
Setelah siswa SMA diberi sebuah materi dengan tema “KOMUNIKASI” dengan 2 kelompok yang berbeda yakni dengan motede belajar ceramah dan metode belajar presentasi. Berdasarkan kuisioner yang telah disebar yang berisi seputar materi yang telah ditampilkan.




POSTER :





3.2 Evaluasi
Pelaksanaan pembuatan tugas mini proyek ini awalnya sesuai diharapkian sesuai dengan perencanaan yang sebelumnya.  Perencanaan yang dibuat pada minggu kedua April berjalan cukup baik dimana setiap anggota kelompok diharapkan mengerjakan tugasnya masing-masing dengan sangat baik dan tepat waktu, tahap perencanaan yang telah dikerjakan masing-masing anggota disatukan serta dilakukan pengoreksian.

Namun dalam pembuatan landasan teori mengenai judul yang kami tentukan sebelumnya. Dan akhirnya kami sharing kepada senior kami yakni kakak Holy Glora. Tidak salah kami memilih sharing karena akhirnya kami pun mendapat pencerahan akan landasan teori dan judul yang hamper terus berubah-ubah. Namun, tidak hanya sampai disitu saja. Kami kembali mengalami kesulitan kembali dalam menentukan lokasi yang akan kami teliti dan penggunaan alat yang ada. Karena kami harus menggunakan ruangan dan memerlukan alat seperti infocus. Namun, setelah itu kami kembali meminta nasihat kepada senior dan setelah itu ternyata infocus bisa kami dapatkan dengan menyewanya. Dan tempat pun kami dapatkan dengan teman anggota kelompok kami yang menjadi alumni bimbel terebut.

Kemudian kami pun langsung menyusun materi dan kuisioner dan langsung meng-print dan memfotocopynya. Sampai ditempat bimbel, kami dapat melanksanakann tugas kami dengan lancer dan anak-anak yang bisa diajak kerja sama.
Pembuatan poster yang berisi kesimpulan dari tugas mini proyek ini merupakan bagian yang tersulit  sehingga membutuhkan waktu yang  lama.Hal ini sudah diduga sebelumnya sehingga disediakan waktu kurang lebih seminggu. Tahap laporan dan evaluasi juga dikerjakan sesuai jadwal yang telah direncanakan sebelumnya dan begitu juga dengan pembuatan testimoni dari masing-masing anggota kelompok. Secara keseluruhan seluruh proses yang berlangsung dalam pengerjaan tugas mini proyek ini sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya sehingga tugas dapat diposting di blog masing-masing anggota dengan tepat waktu.


TESTIMONI :

Berliana Mega  (11-095)






















DOKUMENTASI :


Para siswa Einstein College


Metode presentasi


Pemberian Reward


Metode ceramah


Para siswa mendengarkan ceramah


Mengisi kuisioner






DAFTAR PUSTAKA:
SANTROCK, JOHN.W. Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua, Jakarta : Kencana ,2010

Selasa, 05 Juni 2012

19

Holaaaa!! how's life? Mine's sooo awesome. i had my birthday on 3rd June. i was turning 19!!!! ( yeah, i'm that old ) and my friends did a trick on me pfft -__-  i was kidnapped and then tied to a tree. And then they throwed eggs, coffe, etc and me. But i know, that they love me haha.


so, what's the wishes?
i have nothing much, i just hope that life will get better, i don't ask God to get rid of my obstacles, but i want Him to give me power to pass those obstacles on my road and yet, i won't ask Him to give me a lighter load but to give me a stronger shoulder to face the days ahead :))

And, I thank God for every bliss and blessings He's given to me which i can't even put it in words. And i thank you all for the great greetings you've said. I wish you fluffy clouds, bright days and amazing things in return <3


yayayy!!

HAPPY B'DAY TO ME!! >.<

"and I hope, just like the wine, the older I get, the better I am"

Jumat, 01 Juni 2012

Paedagogi

Pedagogik merupakan kajian pendidikan. Secara etimologi berasal dari kata Yunani “paedos”, yang berarti anak laki-laki dan “agogos” artinya mengantar, membimbing. Jadi pedagogik secara harfiah berarti pembantu anak laki-laki pada jaman Yunani kuno, yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya ke sekolah. Kemudian secara kiasan, pedagogik ialah seorang ahli, yang membimbing anak ke arah tujuan hidup tertentu. 

Menurut Prof. Dr. J. Hoogveld (Belanda) pedagogik adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu supaya kelak ia “mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya”. Jadi pedagogik adalah Ilmu Pendidikan Anak Langveld (1980) membedakan istilah “pedagogik” dengan istilah “pedagogi”. Pedagogik diartikan dengan ilmu pendidikan, lebih menitik beratkan kepada pemikiran, perenungan tentang pendidikan. Suatu pemikiran bagaimana kita membimbing anak , mendidik anak. Sedangkan istilah pedagogi berarti pendidikan, yang lebih menekankan kepada praktek, menyangkut kegiatan mendidik, kegiatan membimbing anak. Pedagogik merupakan suatu teori yang secara teliti, kritis dan objektif mengembangkan konsep-konsepnya mengenai hakekat manusia, hakekat anak, hakekat tujuan pendidikan serta hakekat proses pendidikan

Pedagogik menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yangada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Jadi pendidikan dalam arti khusus Pedagogik hanya dibatasi sebagai usaha orang dewasa dalam membimbing anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya. Setelah anak menjadi dewasa dengan segala cirinya, maka pendidikandianggap selesai.




Lalu, manakah yang lebih luas? Psikologi Pendidikan atau Pedagogi? Pada awalnya kami bersikukuh bahwa Psi. Pendidikan lebih luas dari Pedagogi, namun ternyata tidak. Psi Pendidikan hanya fokus pada proses mental yang terjadi terhadap murid dalam proses pembelajaran yang dilakukan.


Sedangkan pedagogi mencakup cara bagaimana mengajar itu sebaiknya dilakukan, hal ini harus mempunyai seni. Salah satunya ialah mensiptakan bagaimana suasana belajar yang baik dan nyaman bagi para murid, mulai dari dekorasi kelas, peraturan yang berlaku hingga bagaimana pengajar menyampaikan materi agar dapat dipahamai dan bagaimana pengajar dapat membawa diri sesuai dengan  karakter murid yang pastinya berbeda-beda.


Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2115688-pengertian-pedagogik/#ixzz1wXroYZG0

Survey : Pendidikan Prasekolah

Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan, saya melakukan sebuah survey mengenai Pendidikan Prasekolah. Survey ini berisikan 6 buah pertanyaan yang telah diisi oleh sekitar 50 orang mahasiswa/i Universitas Sumatera Utara fakultas Psikologi angkatan 2011. Hasilnya adalah sebagai berikut :


  • Pendidikan prasekolah adalah wajib bagi anak sebelum mengikuti pendidikan dasar



Setuju
24
46.15%
Netral
21
40.38%
Tidak Setuju
7
13.46%




  • Pola belajar dalam pendidikan  prasekolah dapat mempengaruhi anak saat masuk ke sekolah dasar

Setuju
42
8077%
Netral
9
17.31%
Tidak Setuju
1
1.92%


  • Anak yang mengalami pendidikan prasekolah lebih cerdas dari anak yang tidak mengikutinya

Setuju
9
17.31%
Netral
27
51.92%
Tidak Setuju
16
30.77%


  • Bermain sambil belajar merupakan cara yang paling bagus dalam pendidikan prasekolah

Setuju
51
98.08%
Netral
1
1.92%
Tidak Setuju
0
00.00%


  • Pembentukan karakter anak adalah hal paling penting yang harus dicapai dalam pendidikan prasekolah

Setuju
37
71.15%
Netral
12
23.08%
Tidak Setuju
3
5.77%


  • Pelaksanaan pendidikan anak prasekolah di Indonesia telah mencapai tahap yang efisien

Setuju
7
13.46%
Netral
29
55.77%
Tidak Setuju
16
30.77%



Melalui data pada tabel diatas, dapat dikatakan bahwa cukup banyak responden yang setuju bahwa pendidikan prasekolah wajib dilakukan sebelum mengikuti pendidikan dasar, namun banyak juga yang bersikap netral terhadap pernyataan tersebut. Selain itu, sekitar 80% lebih koresponden setuju bahwa pola belajar dalam pendidikan  prasekolah dapat mempengaruhi anak saat masuk ke sekolah dasar, disini seperti apa belajar yang diajarkan oleh guru akan mempengaruhi anak kelak. 


Sekitar 50% lebih responden bersikap netral terhadap pernyataan apakah anak yang mengikuti pendidikan prasekolah lebih cerdas daripada anak yang tidak mengikuti pendidikan tersebut. Sebagian besar responden juga setuju bahwa pembentukan karakter anak adalah hal paling penting yang harus dicapai dalam pendidikan prasekolah serta bermain sambil belajar merupakan cara yang paling bagus dalam pendidikan prasekola dan sekitar 55% responden bersikap netral mengenai apakah pelaksanaan pendidikan anak prasekolah di Indonesia telah mencapai tahap yang efisien.


Dengan pendidikan prasekolah, anak dapat dipersiapkan untuk mengikuti pendidikan dasar kelak, bagik dari segi sosial, kognitif, dll. Pola belajar yang dilakukan pun dapat mempengaruhi anak bagaimana ia belajar dan cara dalam menyikapi suatu masalah.  Bermain belajar adalah salah satu pola beljar yang baik untuk dilakukan, dimana anak tidak perlu dituntut untuk belajar dan berpikir keras, melainkan dapat mengasah kemampuan kognitifnya melalui permainan-permainan yang diberikan, sehingga anak dapat menyerap ilmu dengan senang. Melalui pendidikan prasekolah, karakter anak dapat dibentuk sejak dini agar dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan moral yang berlaku dalam masyarakat.

Namun, tidak selamanya anak yang mengikuti pendidikan prasekolah lebih cerdas dari anak yang tidak mengikutinya, karena ada faktor lain yang mempengaruhi seperti, kemampuan anak itu sendiri, lingkungan, pola asuh orangtua, dll. Selain itu, pengadaan pendidikan prasekolah belum cukup efisien di Indonesia karena belum merata dan kurangnya pengetahuan masyarakat akan pendidikan prasekolah tersebut.



Testimonial :

Pada awalnya, pengerjaan tugas ini saya kira akan sulit, tapi setelah dilakukan ternyata tidak sesulit yang saya duga, karna ternyata cukup mudah untuk dipelajari.
Kelebihan survey online ini ialah penghematan biaya karna tidak perlu menggunakan kertas dan tidak perlu dicetak. Selain itu, survey juga dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja dengan menggunakan internet. Kelebihan lainnya ialah peneliti dapat memiliki responden yang cukup besar hanya dengan memberi link saja tanpa perlu mendatangi responden.

Namun, hal ini juga memiliki kelemahan, yaitu saat mengerjakan tugas ini, ada begitu banyak survey yang harus diisi, sehingga menyebabkan lupa link mana saja yang telah diisi yang berujung pada pengisian survey yang sama sebanyak 2 kali bahkan lebih. selain itu, bisa saja saat responden tidak teliti menghasilkan survey yang tidak komplit (incomplete result)



Jumat, 11 Mei 2012

testimoni mengenai blended learning

Hari ini pada mata kuliah Psikologi Pendidikan, kami melaksanakannnya melalui B-learning. 


Tanggapan positif : ini merupakan suatu hal baru yang patut dicoba dan cukup menyenangkan. karena adanya jaringan internet, kami dapat langsung mencari bahan sebagi referensi terhadap topik yang dibicarakan. Selain itu hal ini juga cukup efektif dan efisien dalam hal waktu dan juga tidak perlu repot menulis karna tidak perlu menggunakan kertas.


Tanggapan negatif : jaringan internet yang terkadang tidak bagus, membuat proses diskusi menjadi terhambat, dan kadang dengan penggunaan tanda baca yang tidak cukup tepat dapat membuat ambiguitas  terhadap pendapat yang hendak diutarakan.

resume mengenai blended learning

Blended learning ialah sebuah  metode pembelajaran yang memadukan pertemuan tatap muka dengan materi online secara harmonis dengan cara komputing atau kegiatan komputer atau program komputer. 

lalu, apa beda B-learning dengan E-learning? Nah, kalau E-learning, murid hanya mengunduh materi yang telah diatur, lalu belajar sendiri. Tidak ada interaksi dan pengajar dan murid saling tidak mendapatkan umpan balik terhadap suatu materi. Sedangkan pada B-Learning, ada interaksi antarmurid maupun murid terhadap pengajar melaui diskusi yang dilakukan secara virtual.

Beberapa kelebihan B-Learning :
  • Pembelajaran terjadi secara mandiri dan konvensional, yang keduanya memiliki kelebihan yang dapat saling melengkapi. Pembelajaran lebih efektif dan efisien
  • Meningkatkan aksesbiltas. Dengan adanya blended learning maka peserta belajar semakin mudah dalam mengakses materi pembelajaran.
  • mahasiswa tidak kagok akan perkembangan teknologi dalam bidang pendidikan

namun, hal ini juga memiliki kekurangan, yaitu :
  • Media yang dibutuhkan sangat beragam, sehingga sulit diterapkan apabila sarana dan prasarana tidak mendukung.
  • Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki pelajar, seperti komputer dan akses internet. Padahal dalam blended learning diperlukan akses internet yang memadai, apabila jaringan kurang memadai akan menyulitkan peserta dalam mengikuti pembelajaran mandiri via 
  • Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan teknologi
  • Tidak meratanya fasilitas yang dimiliki pelajar, seperti komputer dan akses internet
  • Dapat menyebabkan ambiguitas akan opini yang hendak disampaikan,
  • Perhatian murid dapat menjadi terbagi karena adanya jaringan internet yang mebuatmereka leluasa untuk membuka situs apapun yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar.

sekian untuk resume mengenai blended learning :)

sumber :
  • http://rizcafitria.wordpress.com/2011/04/30/blended-learning/
  • http://hafismuaddab.wordpress.com/2011/04/26/konsepsi-e-learning-dan-blended-learning/


Jumat, 04 Mei 2012

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus


Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita,tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda. 



 Strategi Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu: ABK temporer(sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporermeliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD (Attention Deficiency andHiperactivity Disorders), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain.

Untuk menangani ABK tersebut dalam setting pendidikan inklusif di Indonesia, tentu memerlukan strategi khusus. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam.Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa: sekolah inklusiadalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.Selanjutnya, Staub dan Peck (1995) menyatakan bahwa: pendidikan inklusi adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Hal ini menunjukkan bahwa kelas reguler merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkelainan, apapun jenis kelainannya dan bagaimanapun gradasinya. Sementara itu, Sapon-Shevin (O’Neil, 1995) menyatakan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Oleh karena itu, ditekankan adanya perombakan sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, sehingga sumber belajar menjadi memadai dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.

Melalui pendidikan inklusi, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya (Freiberg, 1995). Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas.

Dalam hal ini, ada empat strategi pokok yang diterapkan pemerintah, yaitu: peraturan perundang-undangan yang menyatakan jaminan kepada setiap warga negara Indonesia (termasuk ABK temporer dan permanen) untuk memperoleh pelayanan pendidikan, memasukkan aspek fleksibilitas dan aksesibilitas ke dalam sistem pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Selain itu, menerapkan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan mengoptimalkan peranan guru.

Di bawah ini beberapa strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus:

1. Strategi pembelajaran bagi anak tunanetra

Strategi pembelajaran pada dasarnya adalah pendayagunaan secara tepat dan optimal dari semua komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran yang meliputi tujuan, materi pelajaran, media, metode, siswa, guru, lingkungan belajar dan evaluasi sehingga proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efesien. Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pembelajaran , antara lain:
Berdasarkan pengolahan pesan terdapat dua strategi yaitu strategi pembelajaran deduktif dan induktf.
Berdasarkan pihak pengolah pesan yaitu strategi pembelajaran ekspositorik dan heuristic.
Berdasarkan pengaturan guru yaitu strategi pembelajaran dengan seorang guru dan beregu.
Berdasarkan jumlah siswa yaitu strategi klasikal, kelompok kecil dan individual.
Beradsarkan interaksi guru dan siswa yaitu strategi tatap muka, dan melalui media.

Selain strategi yang telah disebutkan di atas, ada strategi lain yang dapat diterapkan yaitu strategi individualisasi, kooperatif dan modifikasi perilaku.


2. Strategi pembelajaran bagi anak berbakat

Strategi pembelajaran yang sesuai denagan kebutuhan anak berbakat akan mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam meneentukan strategi pembelajaran adalah :
Pembelajaran harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas.
Tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual semata tetapi juga mengembangkan kecerdasan emosional.
Berorientasi pada modifikasi proses, content dan produk.

Model-model layanan yang bias diberikan pada anak berbakat yaitu model layanan perkembangan kognitif-afektif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus.


3. Strategi pembelajaran bagi anak tunagrahita

Strtegi pembelajaran anak tunagrahita ringan yang belajar di sekolah umum akan berbeda dengan strategi anak tunagrahita yang belajar di sekolah luar biasa. Strategi yang dapat digunakan dalam mengajar anak tunagrahita antara lain;
Strategi pembelajaran yang diindividualisasikan
Strategi kooperatif
Strategi modifikasi tingkah laku


4. Strategi pembelajaran bagi anak tunadaksa

Strategi yang bias diterapkan bagi anak tunadaksa yaitu melalui pengorganisasian tempat pendidikan, sebagai berikut:
Pendidikan integrasi (terpadu)
Pendidikan segresi (terpisah)
Penataan lingkungan belajar


5. Strategi pembelajaran bagi anak tunalaras

Untuk memberikan layanan kepada anak tunalaras, Kauffman (1985) mengemukakan model-model pendekatan sebagai berikut;
Model biogenetic
Model behavioral/tingkah laku
Model psikodinamika
Model ekologis


6. Strategi pembelajaran bagi anak dengan kesulitan belajar
Anak berkesulitan belajar membaca yaitu melalui program delivery dan remedial teaching
Anak berkesulitan belajar menulis yaitu melalui remedial sesuai dengan tingkat kesalahan.
Anak berkesulitan belajar berhitung yaitu melalui program remidi yang sistematis sesuai dengan urutan dari tingkat konkret, semi konkret dan tingkat abstrak.


7. Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu

Strategi yang biasa digunakan untuk anak tunarungu antara lain: strategi deduktif, induktif, heuristic, ekspositorik, klasikal, kelompok, individual, kooperatif dan modifikasi perilaku.